Home » » RSAB Siti Fatimah Dibantu Jepang

RSAB Siti Fatimah Dibantu Jepang

Written By Admin on Friday, September 7, 2012 | Friday, September 07, 2012

Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Siti Fatimah, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo yang awal Juli lalu diboikot para dokter,  mendapat perhatian dari pemerintah Jepang.

OLEH: IKHSAN MAHMUDI

AWAL Juli 2012 lalu, peristiwa eksodusnya para dokter spesialis dan dokter umum dari RSAB Siti Fatimah menjadi perhatian publik. Diduga karena pesan pendek (short message service/SMS) yang mengatasnamakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), sebanyak 15 dokter hengkang dari rumah sakit swasta itu.
Sisi lain Kepala Dinker, dr Endang Astuti membantah telah mengirimkan SMS agar para dokter RSUD Waluyo Jati itu meninggalkan RSAB Siti Fatimah. “Kami tidak pernah mengirim SMS seperti itu. Kami tidak pernah melarang para dokter praktik di luar RSUD,” ujarnya saat itu.   
Hanya saja dr Endang mengingatkan, dokter-dokter diharapkan memprioritaskan pelayanan di RSUD. “Boleh praktik di luar, tetapi harus lebih dulu memprioritaskan di RSUD,” ujarnya.
Disinggung aksi para dokter dan tim operasi yang tidak lagi praktik di RSAB Siti Fatimah, dr Endang menduga, karena jadwal mereka sudah padat. “Sehingga jadwal untuk praktik di RSAB Siti Fatimah sudah tidak ada,” ujarnya.   
Pernyataan dr Endang tidak menghentikan isu dan kasak-kusuk yang berkembang terkait hengkangnya para dokter dari RSAB Siti Fatimah. Hal itu dikait-kaitkan dengan sikap Budiono, pemilik RSAB Siti Fatimah, yang mendukung salah satu pasangan calon bupati-calon wakil bupati (cabup-cawabup) tertentu.
Isu politisasi yang mendera RSAB Siti Fatimah belum reda ketika Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya, Noboru Nomura berkunjung ke rumah sakit di Jl. Letjend Suprapto: 55, Kraksaan, Rabu (5/9). Tidak sekadar memberikan dukungan moral, pemerintahan Jepang pun memberikan paket bantuan 8 juta Yen (sekitar Rp 800 juta) kepada RSAB Siti Fatimah.
“Kami meninjau RSAB Siti Fatimah untuk mengecek bahwa bantuan dari pemerintah Jepang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ujar Noboru. Dikatakan bantuan berupa bangunan fasilitas UGD dan peralatannya itu sebelumnya memang diajukan pihak RSAB Siti Fatimah. Tidak hanya rumah sakit, pemerintah Jepang juga membantu Pesantren Al Mashduqiyah di Kecamatan Kraksaan.

Disinggung soal kelangkaan dokter spesialis dan dokter umum di RSAB Siti Fatimah, Noboru berharap masalah itu segera bisa diselesaikan. “Mudah-mudahan segera ada jalan keluar,” ujarnya.

Disinggung soal penarikan semua dokter spesialis dan dokter umum RSUD Waluyo Jati dari RSAB Siti Fatimah, Noboru mengatakan, pemerintah Jepang tidak ingin campur tangan soal kebijakan itu. “Itu kebijakan pemerintah (Pemkab Probolinggo, Red.), kami tidak etis kalau campur tangan,” ujarnya.

Sementara itu Direktur RSAB Siti Fatimah, Lailatul Khairiah mengatakan, guna menutupi kekurangan dokter spesialis, pihaknya sudah menghubungi berbagai pihak. “Kami sudah menghubungi Kementerian Kesehatan, Komisi IX DPR RI, Dinkes Jatim, dan melobi daerah tetangga,” ujarnya.

Laila, panggilan akrab Lailatul Khairiah, mengaku, hingga kini tidak tahu penyebab pasti hengkangnya 15 dokter dari rumah sakitnya. “Tidak tahu, apakah ini politis atau tidak. Yang jelas, rumah sakit kami kekurangan dokter,” ujar istri Budiono itu.

Laila mengakui, di mana-mana yang namanya rumah sakit swasta biasanya tidak memiliki dokter spesialis dalam jumlah memadai. “Kecuali rumah sakit swasta besar, sebagian besar rumah sakit swasta kekurangan dokter spesialis,” ujarnya.

Memang hingga kini nama-nama 9 dokter spesialis (3 dokter spesialis kandungan dan kebidanan, saraf, anesthesi, anak, penyakit dalam, bedah, dan THT) dan 6 dokter umum masih terpampang di dinding RSAB Siti Fatimah. “Tetapi dokter-dokter itu sudah ditarik dari RSAB, dan kembali ke RSUD Waluyo Jati,” ujar Laila.

Dikatakan setiap hari rata-rata ada dua pasien yang menjalani operasi di rumah sakit yang berdiri sejak 1994 silam itu. Untuk menopang kinerjanya, RSAB bekerjasama dengan RS Waluyo Jati milik Pemkab Probolinggo sejak 1997 silam. “Sejak 1997 ada kerjasama dengan RS Waluyo Jati, kerjasama diperbarui tiap lima tahun,” ujar Budiono. **

sumber : http://www.surabayapost.co.id
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

Silakan berikan komentar Anda
Bersama membangun kabupaten probolinggo

Next Back Home