Destinasi Wisata Baru 'Bukit Trianggulasi' di Probolinggo

Penulis : Hendra 
Minggu, 30 April 2017 



Probolinggo,kraksaan-online.com - Gunung Bromo dan budaya Tengger-nya adalah salah  satu icon wisata yang membanggakan Kabupaten Probolinggo, tidak hanya kemolekan alamnya saja yang seakan tak pernah habis diperbincangkan para turis, tradisi budaya warisan leluhur masyarakat Tengger juga sebagai pelengkap alasan Bromo sebagai salah satu icon eksotika dunia. Merupakan tanggung jawab bersama untuk senantiasa memelihara kelestariannya.

Satu lagi destinasi wisata yang baru dirilis oleh Pemerintah Kecamatan Sukapura setelah Goa Batman yang kinipun mulai ramai dikunjungi para “pencari keindahan”. Bukit Trianggulasi, keperawanannya tidak perlu diragukan lagi, sebagaimana kita lihat di media sosial yang masih sepi dengan unggahan-unggahan dari kemolekan dan pesona Bukit Trianggulasi ini.

“Memang belum banyak diketahui masyarakat luas, namun ke depannya saya yakin bakal menjadi tren baru di kawasan wisata yang sudah mendunia ini,” kata Camat Sukapura Yulius Christian.

Bukit Trianggulasi berada di Dusun Pusung Malang, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura tepatnya dipuncak Gunung Ringgit. Tak hanya indah dan mempesona, namun memiliki muatan historikal dan legenda yang menyelimutinya. Bahkan disini pengunjung akan disuguhkan tradisi kuno turun temurun masyarakat Tengger yang bakal membuat pengunjungnya selalu rindu ingin kembali mengunjunginya.

Dalam legendanya, Joko Temenggung Keliwung yang merupakan Putra pertama Joko Seger dan Roro Anteng dipercaya masyarakat sekitar sebagai penguasa Gunung Ringgit dan sekitarnya. Konon Joko Temenggung Kliwung dianugerahi kawasan ini oleh orang tuanya itu. Sedangkan puncak dari Gunung Ringgit dengan ketinggian 2500 mdpl ini sangat memungkinkan pandangan bebas bagi mata kita ke arah timur, utara dan selatan. 

BACA : 

Kembangkan Distinasi Wisata Baru Goa Batman di Probolinggo


Oleh sebab itu, di masa penjajahan Belanda, puncak ini dijadikan sebagai titik Trianggulasi, bahkan masih ada situs patok penandanya sampai sekarang. Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber, Trianggulasi adalah mencari titik koordinat dan jarak sebuah titik dengan mengukur sudut antara titik tersebut dan dua referensi lainnya yang sudah diketahui posisi dan jarak antara keduannya. Teknik ini juga dipakai dalam navigasi darat oleh Angkatan Darat. 

Karena lokasinya yang sedemikian rupa, maka puncak ini tentu laksana surga bagi para pemburu fenomena Sunrise, selfi lover dan penggemar seni fotografi, khususnya untuk genre landscape fotografi maupun human interest fotografi yang konon kehidupan penduduk di kawasan Bromo Tengger selalu terkesan sangat dramatis jika terbingkai dalam sebuah frame foto.

Yulius mengungkapkan bahwa Wisata Bukit Trianggulasi secara lengkap menawarkan tiga pesona didalamnya, kemolekan alam dan historisnya, kehangatan tradisi penduduknya dan sensasi irama adrenalin yang berbeda dari objek wisata manapun, khususnya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). 

Pihaknya telah menyiapkan beberapa rumah penduduk yang bermukim tepat dibawah bukit Trianggulasi sebagai peristirahatan sementara bagi para pencari keindahan sembari menunggu sunrise tiba. Hangatnya keramahan tradisi penduduk dalam menyambut tamu di dapur (bukan di ruang tamu) seakan membuat mereka terlupa dengan dinginnya suasana malam Tengger.

“Inilah salah satu komoditi yang ingin kami kenalkan, kami telah berkomitmen bersama Pemerintah Desa dan penduduk sekitar bukit Trianggulasi untuk bersama-sama mengenalkan kearifan lokal kami,” ungkapnya.

Untuk menikmati secara lengkap pesona Bukit Trianggulasi, sebaiknya dilakukan sejak malam hari. Karena pesona suasana malam dan eksotika di pagi harinya sama-sama menjanjikan keindahan, namun dengan suasana dan angle yang berbeda.

Untuk mencapai bukit ini bukan perkara mudah, sebelumnya persiapkan segala perbekalan untuk perjalanan satu malam dan segenap peralatan pribadi yang memadai seperti baju hangat, jaket, sleeping bag, wind stoper, sarung tangan, kaca mata sun glass, sepatu tracking, senter/penerangan. 

Wajib hukumnya untuk menggunakan transportasi khusus yaitu jeep Hardtop yang sudah didesain khusus agar mampu melewati jalur ekstreem menuju Dusun Pusung Malang ini, +/- 2 jam perjalanan yang harus ditempuh dari pangkalan jeep yang sudah tersedia di depan Kantor Desa Sapikerep menuju ke dusun terakhir yaitu Dusun Pusung Malang.

“Jika sedang tidak ada jeep yang sedang ngetem silahkan hubungi 085330727815. Ini nomor Hand Phone Kepala Desa Sapikerep untuk membantu mendapatkan layanan jeep nya,” katanya.

Degup jantung dan desiran adrenalin kita sudah dimulai sejak awal perjalanan ini. Satu-satunya jalur menuju Dusun Pusung Malang yakni melalui jalan desa menembus kawasan hutan lindung milik Perhutani. Bagi yang menyukai petualangan liar tentu hal ini  akan terasa sangat menantang. Jalur bebatuan yang tak rata  penuh tanjakan turunan curam dan kelokan tajam serta iringan ramai suara serangga dan burung malam adalah sensasi yang tidak akan pernah terlupakan.

Apakah cukup disini petualangannya? Tidak, masih ada petualangan yang ditawarkan untuk menuju bukit ini. Masih tersisa  +/- 5 km lagi yang harus ditempuh dari Dusun Pusung Malang menuju Bukit Trianggulasi. Jalur yang tersedia adalah menyusuri perkebunan lokal milik warga yang terhampar di seluas lereng Gunung Ringgit ini.

Ojek kentang (tukang ojek motor hasil perkebunan) adalah sarana transportasi yang patut dicoba. Dengan modifikasi khusus pada roda belakang dan schock, para tukang ojek yang sudah berpengalaman medan ini selalu siap untuk mengantarkan para pencari keindahan menuju pemukiman terakhir tepat dibawah Bukit Trianggulasi. Adrenalin terasa terpacu makin kencang mengikuti laju “ojek kentang” bak seorang crosser yang sedang memacu motocrossnya. Hembusan dinginnya hawa Tengger dan indahnya gemerlap lampu suasana Kota Probolinggo yang mukai busa kita lihat seakan bercampur aduk dengan derasnya adrenalin yang sedang terpacu. 

Namun jika tak cukup nyali untuk menggunakan transportasi ini dan atau jika memang pencari keindahan ini adalah seorang penghobi hiking, maka jalan kaki mendaki jalur ini adalah pilihan utama, +/- 2,5 jam saja jika ditempuh dengan jalan kaki sampai ke pemukiman penduduk terakhir.

“Kami memang bersepakat tetap mempertahankan kondisi ekstreem jalur perkebunan ini, karena hal ini nantinya tentu akan berimbas pada meningkatnya penghasilan para tukang ojek kentang yang merupakan penduduk asli Dusun Pusung Malang ini,” kata mantan Kabag Kominfo ini.

Setelah terpapar dinginnya terpaan angin malam Tengger, singgah dan istirahatlah sejenak di rumah-rumah penduduk Pusung Malang ini untuk sekedar menyiapkan tenaga ekstra untuk melakukan perjalanan menuju puncak Trianggulasi. Keramahan tegur sapa dan hangatnya suasana dapur khas Tengger akan melengkapi cerita seru perjalanan wisata anti mainstream ini. 

Mereka menyebutnya tradisi “kepawon”, tradisi turun temurun para nenek moyang mereka adalah menyambut dan menerima tamu istimewanya bukanlah di ruang tamu melainkan di dapur dengan api tumang yang dibiarkan tetap menyala sebagai penghangat. Beda tipis dengan budaya di Eropa bukan?. Hanya tersisa setengah jam lagi perjalanan jalan kaki menuju puncak Trianggulasi. Dan sekali bagi para pencari keindahan yang lebih menyukai menghabiskan malam didalam tenda maka suasana puncak Trianggulasi relatif cukup aman untuk giat mounteneering semacam ini. 

Pemandangan taburan lampu spektakuler Kota Probolinggo dan wilayah sekitarnya, terhampar berkilauan bak lautan intan berlian. Jika langit sedang cerah kerlip gugusan bintang seakan berpadu dengan hamparan lampu kota ini. 

Bagi penggemar landscape fotografi tentunya momen langka seperti ini dapat diabadikan dengan teknik slowspeed/long eksposure pada kamera DLSR nya. Langit cerah yang terbebas dari kontaminasi polusi udara akan memberikan warna warni yang indah pada foto yang dihasilkan.

Sejenak setelah fajar mulai menyingkap tabirnya, pelan-pelan sinarnya mulai menerangi puncak Trianggulasi beserta lereng Gunung Ringgit, maka nampaklah seutuhnya panorama alam nan megah dari puncak ini. Dari arah utara nampak Kota Probolinggo yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Dari timur deretan pegunungan Hyang yang luas, sedangkan dari selatan Mahameru yang gagah dan Gunung Bromo berdampingan dengan Gunung Batok lengkap dengan kepulan asap vulkaniknya yang eksotik seakan membuat pengunjung ingin berlama-lama di puncak Trianggulasi ini.

Mereka seakan berada di dimensi lain alam ini. Inilah karya agung sang pencipta yang tidak banyak orang mengetahuinya. Berada dan memandang langsung panorama agung ini, sejenak akan membuat kita merasa sangat kecil dan tak berdaya. 

Post a Comment

0 Comments