Ternyata Masih Ada, Siswa Sekolah yang Harus Nyeberang di Sungai

Penulis : Firman
Selasa 25 April 2017

Probolinggo,KraksaanOnline.com - Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara dan negara wajib memfasilitasinya. Namun apa jadinya bagi mereka para siswa asal padukuhan kedung Miri, Desa Opo Opo, kecamatan  Krejengan yang harus bertaruh nyawa menyeberangi anak sungai Rondoningo setiap harinya untuk menuntut ilmu disekolah yang letaknya berada diseberang sungai itu.

Hal tersebut dialami oleh sekitar 45 siswa asal pedukuhan Kedung Miri yang harus mencopot sepatu dan mencincing celananya setinggi diatas lutut agar tidak kebasahan. Dan bagi mereka yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak mereka harus dijunjung orang tuanya untuk mengantarkannya menyeberangi sungai dan mengantarkannya hingga kesekolah mereka yang berada sekitar 2 kilometer dari tempat tinggalnya.

Bukan perkara mudah untuk menyeberangi sungai tersebut, lantaran selain kondisi bebatuannya yang licin, arus sungai yang cukup deras dapat menyeret mereka sewaktu-waktu, terlebih pada musim hujan yang tak dapat diprediksi kapan bisa terjadinya banjir bandang yang sangat membahayakan bagi anak-anak padukuhan kedung Miri tersebut.

“Kondisi ini sudah terjadi sejah sekitar 30 puluhan tahun yang lalu, sejak jembatan bambu terakhir yang kami bangun swadaya, hilang terbawa banjir bandang,” ujar samsul, kepala dukuh kedung Miri," Selasa (25/4/2017).

Dia mengungkapkan, sudah menjadi hal biasa baginya setiap paginya membantu dan memastikan para siswa asal dukuhnya untuk menyeberang dengan selamat kesisi lain sungai selebar sekitar 35 meter tersebut.

“Setelah ada kejadian orang hanyut dan siswa yang sempat terseret arus, kami bersepakat dengan warga untuk memastikan anak-anak kami dengan membantu dan mengawasinya dijam-jam berangkat dan pulang sekolah,” ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Saiful Anam (49), Kepala MI Nurul islam yang menjadi sekolah sebagian besar anak-anak padukuhan tersebut. Dia menjelaskan sudah menjadi barang biasa melihat seragam anak didiknya itu basah kutup ketika mereka memasuki gerbang sekolah. Dan terkadang mereka membiarkan anak didiknya itu tak menggunakan seragam ketika seragamnya benar-benar basah kuyup,

“Ada orang tua mereka yang mengantarkan pakaian ganti yang dibungkus plastik dan diantarkan diseberang dan ditaruh dipinggir sungai, nanti ketika jam istiraht anak-anak yang mengambilnya,” paparnya.

Dengan kondisi demikian, diakui oleh Saiful tentunya sangat berpengaruh dan menggangu proses kegiatan belajar mengajar dikelas. Bagaimana tidak, siswa sesampainya disekolah sudah dalam kondisi lelah dan kebasahan yang membuat mereka tidak nyaman belajar,

Sementara Moh Rendi (6) saat ditemui usai menyeberangi sungai, dengan polosnya mengatakan jika menyeberangi sungai sperti itu sebenarnya membuatnya takut. Terlebih ketika kondisi sungai yang airnya keruh itu ketinggiannya tak seperti biasanya.

“Kalau dalamnya sudah diatas lutut saya, saya tidak berangi nyebrang, paling saya nunggu orang tua untuk menyeberangkan, kalau tidak ada ya tidak sekolah,” katanya.(fir)

Editor : Wicahyo

Post a Comment

0 Comments