Ratusan Nahdliyin Semarakkan Haul Non Abdul Jalil Genggong

Penulis : Dimaz Akbar
Senin 20 November 2017

Probolinggo,kraksaanonline.com - Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si bersama Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko, Senin (20/11/2017) pagi menghadiri haul almarhum Al-Arief Billah Non Abdul Jalil Genggong dan Kiai Abdur Razaq di Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah Desa Mojolegi Kecamatan Gading.

Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut sejumlah Kepala SKPD dan Camat Gading Zainuddin bersama jajaran Forkopimka Gading. Serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di Kecamatan Gading.

Haul Non Abdul Jalil Genggong yang istiqomah dilakukan setiap tahun ini diikuti oleh ratusan warga NU dan wali santri. Serta, santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah.

Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa kegiatan haul ini merupakan budaya dan tradisi asli yang dilakukan warga NU. Inilah yang membedakan antara NU dengan yang tidak NU.

“Hanya saja banyak sekarang tradisi dan budaya NU yang putus karena sudah tidak mampu mengikuti perkembangan zaman dan tergilas ikut perkembangan zaman karena salah bergaul. Hakekatnya kita meninggalkan urusan duniawi hadir disini akan mendapatkan barokah asalkan yakin dengan hati yang tulus,” ungkapnya.



Menurut Hasan Aminuddin, Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah ini istiqomah menggelar haul Non Abdul Jalil Genggong seperti ini. “Inilah bukti nyata barokah Non Jalil. Sebab kalau cuma didongeng dan tidak ada bukti maka tidak akan nyata. Ini cerita fakta tentang barokah Non Abdul Jalil. Fakta itu benar-benar ada dan yg dihaul ini adalah kekasih Allah SWT,”  jelasnya.

Hasan menegaskan bahwa merawat ayah dan ibunya supaya tersenyum bisa dihitung, apabila gurunya. Lalu mau mendapatkan barokah dari mana. Apalagi saat ini orang banyak yang durhaka kepada orang tuanya. Sudah banyak generasi saat ini sudah tidak memulyakan kedua orang tuanya.

“Marilah majelis haul ini kita jadikan introspeksi tentang akhlak kepada orang tua dan guru. Ini penting kepada anak yang ada di pondok pesantren karena sekarang zaman digital. Saat kita sudah dijauhkan dengan manusia melalui alat berupa handphone. Kalau dulu bisa tertawa bersama, sekarang malah tertawa sendirian melalui Handphone,” terangnya.

Lebih lanjut Hasan menawarkan solusi bagaimana menyelamatkan generasi muda agar menjadi generasi yang sholeh dan sholehah. “Setiap orang tua yang mempunyai anak umur SD kelas 6 perubahan akhlaknya berbeda dan coba bandingkan dengan orang tuanya,” katanya.

Hasan menerangkan bahwa agar orang tua merasa tenang maka setelah lulus SD atau MI masukkan anaknya ke pondok pesantren. “Memang awalnya berat jika harus berpisah dengan anak. Bahkan terkadang kita sampai menangis. Tetapi lebih baik menangis sekarang dari pada menangis nanti karena anak salah pergaulan,” pungkasnya.

Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniyah KH Muhammad Asyari Sholeh dalam sambutannya banyak menceritakan kisah kehidupan dan riwayat dari Non Abdul Jalil Genggong.

“Kita tidak bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Non Abdul Jalil Genggong. Kalau lagi wiridan nyaris tidak bisa mendengar suaranya. Selain itu, kalau beribadah selalu dirahasiakan. Inilah yang kemudian membuat Non Abdul Jalil memperoleh kerahmatan yang luar biasa, ” ungkapnya. (maz)



Post a Comment

0 Comments