Sukapura Kecamatan Pusaka

Penulis : Dimaz Akbar
Selasa 21 November 2017
Gedung putih yang merupakan rumah dinas Camat Sukapura yang merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun awal tahun 1900

Probolinggo,kraksaanonline.com - Kecamatan Sukapura tidak hanya mempesona dengan wisata Gunung Bromo yang sudah mendunia. Ternyata masih banyak potensi yang belum terpublish secara luas dan bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri jika dipublikasikan dengan baik .


Hal tersebut terungkap dalam program Bulan Publikasi Kecamatan yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Pro TV Probolinggo, Selasa (21/11/2017).

Dalam kesempatan tersebut, Camat Sukapura Yulius Christian yang menjadi reporter dadakan banyak mengangkat beberapa potensi terpendam yang dimiliki oleh Kecamatan Sukapura.


“Saya akan mengangkat beberapa potensi yang selama ini belum banyak dikenal oleh masyarakat. Jika potensi ini sudah diketahui secara luas, tentunya akan menjadi sebuah alternatif wisata di Kecamatan Sukapura, ” katanya.

Mantan Kabag Kominfo ini menerangkan akan sia-sia jika mempublikasikan potensi yang sudah banyak dikenal. Sebab tanpa diangkatpun sudah banyak yang tahu dan sudah banyak dikunjungi. “Program Bulan Publikasi Kecamatan ini menjadi sebuah media untuk mengangkat potensi yang selama ini belum banyak dikenal,” tegasnya.

Menurut Yulius, Kecamatan Sukapura dikenal sebagai kecamatan pusaka. Disebut demikian karena di Kecamatan Sukapura banyak berdiri gedung kuno peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat dengan baik sekali.


“Salah satunya adalah gedung putih yang merupakan rumah dinas Camat Sukapura yang merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun awal tahun 1900,”  ungkapnya.

Gedung kuno lain yang dimiliki Kecamatan Sukapura adalah eks Gudang Kopi peninggalan kolonial Belanda yang dibangun tahun 1818 dan dialihkan tahun 1912 silam. Dimana saat ini ditempati oleh SDN Sapikerep 1 yang juga masih terawat dengan baik. “Di SDN Sapikerep 1 juga terdapat bangku dan lemari kuno peninggalan kolonial Belanda tertanggal 8 Maret 1929,” terangnya.

eks Gudang Kopi peninggalan kolonial Belanda yang dibangun tahun 1818 dan dialihkan tahun 1912



Di Desa Sapikerep 1, Tim Program Bulan Publikasi Kecamatan juga disuguhi Kopi Kabut Bromo. Disebut demikian karena cara membuatnya cukup unik. Dimana kopi tersebut diseduh dengan air panas dan saat dituangkan mengeluarkan uap kopi yang sedikit berbusa. “Hal inilah yang kemudian disebut sebagai Kopi Kabut Bromo,” akunya.

Selain bangunan kuno, Yulius juga mengangkat potensi batik yang dilakukan oleh Batik Tulis Pasir Berbisik. Dimana batik tulis ini menghasilkan beberapa motif yang mengangkat potensi di kawasan Tengger. Sehingga tidak mengherankan jika sentra batik tersebut banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. “Salah satu unggulannya, batik tulis ini menggunakan pewarna alami, ” tambahnya.

Stand Batik Tulis Pasir Berbisik


Program Bulan Publikasi Kecamatan di Kecamatan Sukapura ini juga mengambil momen penampilan Tari Karawitan yang dipersembahkan oleh siswa dan siswi SMPN 1 Sukapura. Petualangan di Kecamatan Sukapura ini diakhiri di Rumah Bundar Peninggalan Belanda(maz)



Post a Comment

0 Comments