Catatan 5:am_Photography : Ramainya pesisir Probolinggo saat musim migrasi burung

Oleh : komunitas 5:am_Photography

JURNAL WARGA PROBOLINGGO - Tahukah anda? Bahwa beberapa jenis satwa burung juga rutin melakukan perjalanan lintas benua pada waktu-waktu tertentu bersama kelompok-kelompok besar. secara umum salah satu fenomena alam ini disebut Migrasi burung (migratory birds), adalah perpindahan burung secara masal dari benua asalnya yang notabene sedang bercuaca ekstrim menuju benua lain yang sedang bercuaca lebih bersahabat dan menjanjikan persediaan makanan yang melimpah guna melanjutkan siklus perkembangbiakan.

Migrasi burung merupakan sebuah siklus ekologi yang berfungsi penting menjaga keseimbangan ekosistem alam. Selain menarik untuk diamati dan di pelajari bagi kalangan akademis, bagi penghobi fotografi hidupan liar, perilaku burung ini juga sangat indah untuk di dokumentasikan dalam media foto.

Burung migran itu berpindah secara masal menempuh jarak ribuan kilometer dari tempat asalnya yaitu belahan bumi utara seperti afrika dan Eurasia yang pada bulan Agustus hingga Maret mengalami musim dingin. Mereka bergerak serentak menuju belahan bumi selatan seperti Australia, Asia Tenggara dan Indonesia kita tercinta yang beriklim hangat. Sampai akhirnya musim berbiak tiba dan mereka harus kembali pulang menuju tempat asalnya dengan menempuh jarak dan jalur yang sama.
By : komunitas 5:am_Photography ( Inung Djadoel dan Djoko Prasetio)

Dari sekian banyak jenis burung migran, salah satu jenis yang umum diketahui dan paling sering kami jumpai saat sedang musim migrasi berlangsung adalah jenis burung perancah (shorebird). Saat sedang transit jenis burung ini biasanya mencari makan di sekitar daerah pesisir pantai, daerah persawahan, pertambakan dan hutan bakau.

Beberapa lokasi di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua diketahui merupakan tempat persinggahan penting para burung pengembara tersebut.

Dan tahukah anda? pesisir Probolinggo pun pada musim migrasi burung seperti saat ini, juga kebagian kedatangan tamu kelompok-kelompok burung perancah migran yang sedang mengembara mencari kehangatan dan tentu saja untuk menyambung hidupnya. Ada yang sebentar bahkan ada pula yang tinggal cukup lama sampai beberapa minggu lamanya.

"kelompok burung Kedidi leher merah sedang mencari makan areal pertambakan"

Pada puncak migrasi, suasana pesisir/pertambakan khususnya di daerah sekitaran Probolinggo terasa begitu berbeda dengan hari-hari biasanya yang relatif tenang dan sepi. Suasana mendadak riuh dan ramai dengan aktifitas burung-burung migran yang selalu sibuk berpindah dari satu kolam ke kolam lainnya untuk mencari makanannya masing-masing.

Ritual tahunan yang telah berlangsung berabad lamanya ini berhasil kami pantau dan dokumentasikan, meski hanya sebatas kemampuan dan waktu yang kami miliki serta kapasitas peralatan yang belum cukup memadai. Namun kami berharap catatan ini bisa menjadi informasi dan pengetahuan awal bagi masyarakat awam yang nantinya bisa untuk di kembangkan lebih lanjut.
By : komunitas 5:am_Photography ( Inung Djadoel dan Djoko Prasetio)

Sementara beberapa jenis burung migran yang berhasil kami pantau dan dokumentasi sejak awal April 2018 sampai akhir juni 2018 antara lain, gajahan pengala (Numenius phaeopus), Gagang bayam (Himantopus leucocephalustimur), cerek kernyut (Pluvialis fulva), Kedidi leher merah (Calidris ruficollis), trinil kaki hijau (Tringa nebularia) , Trinil kaki merah (Tringa totanus) , trinil pantai (Actitis hypoleucos) , trinil semak (Tringa glareola), beberapa jenis dara laut , dan juga Berkik ekor lidi (Gallinago stenura).

Awalnya memang sedikit tidak percaya, bagaimana mungkin burung yang rata-rata memiliki ukuran tubuh tidak seberapa itu mampu terbang dengan menempuh jarak yang sedemikian jauhnya. Namun ada satu bukti kecil yang kami dapatkan dan akhirnya cukup meyakinkan kami. Salah satu bukti itu adalah tanda berupa bendera kecil pada kaki salah satu burung tersebut.
By : komunitas 5:am_Photography
Bendera kecil warna orange ini kami dapati pada kelompok burung Kedidi leher-merah, yang beberapa waktu lalu juga berhasil kami amati di sebuah kawasan mangrove dan pertambakan di desa Asembagus kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Kedidi leher-merah (Calidris ruficollis) adalah salah satu burung perancah dari keluarga Scolopacidae, dari genus Calidris. Ukuran tubuh kecil (15 cm), dengan warna tubuh bagian atas coklat keabu-abuan, berbintik dan bercoret. Alis mata putih, pusat tungging dan ekor coklat gelap. Sisi ekor dan bagian bawah putih. Iris coklat, paruh hitam, dan kaki hitam (sumber:wikipedia)

Berdasarkan informasi lain yang tersedia di Google menyebutkan, bahwa perbedaan dan kombinasi warna pada bendera kaki akan menujukkan tempat atau lokasinya. Hal ini juga diperkuat oleh keterangan yang kami dapat dari Iwan Londo (Bird Consultan Surabaya). Menurut ia bendera warna orange pada kaki itu artinya, bahwa burung tersebut pernah singgah dan ditandai oleh peneliti/pengamat burung di Victoria, Australia.
Add caption

Sementara Kedidi leher-merah ini berbiak di Alaska dan Siberia. Nah kebayang bukan berapa jarak yang harus mereka tempuh agar tetap bisa bertahan hidup dan tetap eksis. Maha besar Allah dengan segala ciptaanya.

Perjalanan berbahaya dan memakan energi besar ini ditempuh oleh burung-burung migran dua kali dalam setahun. Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berlangsung mulus dan menyenangkan, berbagai gangguan dan tantangan harus dihadapi selain predator alami, faktor cuaca dan faktor X lainnya.

Salah satu faktor X ini juga terdapat di daerah Probolinggo, seperti yang sudah kami ceritakan diatas, fenomena ini tidak hanya menarik perhatian kami (5:am_Photography). Suasana pertambakan yang mendadak ramai dengan kehadiran burung migran itu ternyata juga mengundang para pemburu bersenapan untuk menyalurkan hasrat kesenangannya.

By : komunitas 5:am_Photography
Ironis memang, ibarat tamu jauh yang seharusnya kita sambut dengan hangat dan kita persilahkan tinggal untuk sekedar menyambung hidup, ternyata di pesisir ini hidup mereka harus berakhir. Entah berapa banyak korban yang telah terenggut?, mungkin di tempat lain atau dengan cara berbeda selain menggunakan senapan.

Dengan berbagi cerita seperti ini, sedikit banyak kami berharap agar masyarakat awam khususnya pihak terkait di Probolinggo juga mengetahui tentang adanya migrasi burung yang selalu berulang setiap tahunnya. Dan pesisir pantai di Probolinggo selain menjadi habitat burung air endemik juga merupakan daerah persinggahan burung pantai migran.

Maraknya hobi perburuan dan pembabatan vegetasi mangrove yang masih sering terjadi di Probolinggo selama ini tentu juga akan menambah laju penyusutan jumlah populasi satwa liar. Terutama jenis burung endemik maupun burung migran. Jika ini terus menerus terjadi, maka tentu manusia juga yang akhirnya akan rugi.

Melalui media ini, kami juga berharap kepada pihak-pihak terkait untuk lebih memperhatikan kondisi ini. Salah satu cara sederhana bisa dengan memasang lebih banyak papan larangan segala bentuk aktifitas perburuan dan pembabatan mangrove di seluruh wilayah pesisir, bukan di beberapa titik saja yang selama ini sudah kami lihat.

Mungkin terasa sepele, tapi hal ini akan sangat efektif mengingat masyarakat masih sangat awam tentang adanya undang-undang yang melindungi keberadaan satwa liar dan vegetasi mangrove, melanggarnya berarti termasuk tindakan melawan hukum dan bisa dipidanakan. (dra)

BACA :



Post a Comment

0 Comments