Kepala BPPT Surabaya Ardi Praptono : " Kami Berharap Ke Depan Petani Agar Lebih Bersemangat Dalam Melaksanakan Kegiatan Perkebunan Organik

MALANG - Selangkah demi selangkah akhirnya membawa Kelompok Tani (poktan) Rejeki 17 (R17) desa Watupanjang kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo semakin dekat menuju mimpi indah yang selama tiga tahun terakhir ini telah di perjuangkan dengan sepenuh hati. Senyum sumringah pun mulai tampak menghiasi wajah - wajah petani kopi lereng utara Argopuro itu.

Pasalnya salah satu poktan binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya penghasil Kopi Arabika berkualitas organik ini berkesempatan mengikuti launching penjualan kopi Petani Pelaksana Kegiatan Pengembangan Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan yang beberapa waktu lalu (01/11/2018) digelar
di lingkungan kampus Politeknik Pengembangan Pertanian (POLBANGTAN) Malang.

Kesempatan ini tentu tidak hanya untuk poktan R17 saja, tetapi poktan lainnya dari 12 Kabupaten (Probolinggo, Bondowoso, Lumajang, Pasuruan, Malang, Pacitan, Blitar, Jember, Banyuwangi, Trenggalek, Jombang dan Madiun) binaan BPPT Surabaya juga dihadirkan. Masing-masing poktan pun bersemangat saling unjuk gigi dengan produk organik andalan mereka (kopi, kelapa (gula semut), dan kakao).


Sekretaris Ditjen Perkebunan - Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Drs. Dudi Gunadi, BSc. M.Si didampingi Kepala BBPPTP Surabaya, Ardi Praptono, SP. M.Agr. serta seluruh pejabat yang hadir saat itu berkesempatan untuk meninjau sekaligus menyicipi produk organik. Tidak itu saja Lembaga Perbankan, Lembaga Sertifikasi Organik, Lembaga Pembiayaan dan para trader mitra Kementan pun juga berkeliling meninjau kualitas dan rasa.

Dudi Gunadi dalam sambutannya mengemukakan, performance perkebunan pada tahun 2016 terhadap PDRB Nasional sebesar 428 trilyun rupiah, kemudian pada tahun 2017 meningkat menjadi 471 trilyun rupiah. Sedangkan nilai total eksport produk perkebunan dari keseluruhan produk pertanian tersebut pada tahun 2017 tercatat sebanyak 341.7 trilnyun rupiah, dan meningkat pada tahun selanjutnya.

Capaian kinerja ekspor tersebut menurut ia masih sangat memungkinkan untuk terus di tingkatkan, melalui peningkatan produktifitas khususnya pada perkebunan khusus (specialty) seperti pada produk yang sudah mendapatkan sertifikasi id dan organik.

Lebih lanjut Dudi Gunadi menerangkan bahwa penjualan perdana kopi poktan organik saat itu adalah sebesar 19 ton dengan nilai sekitar 1,1 milyar rupiah. Sementara komitmen penjualan sampai Februari tahun 2019 mencapai 116 ton dengan nilai sekitar 7 milyar rupiah. Selanjutnya agar bisa menembus pasar ekspor beberapa persyaratan harus di penuhi petani, yakni sertifikasi organik nasional maupun internasional, mutu dan cita rasa produk yang stabil, kontinuitas produk, manajemen pergudangan serta berbagai persyaratan lainnya.


"Launching kopi kali ini dilaksanakan dalam rangka ekspose penjualan perdana produk perkebunan organik hasil poktan pelaksana perkebunan organik. Ini menunjukkan bahwa pemerintah betul - betul serius dan memiliki komitmen yang kuat dengan membantu memasarkan hasil perkebunan organik yang tengah dibangun oleh petani dan Pemerintah saat ini," kata Dudi Gunadi meyakinkan para petani.

Senada dengan itu Kepala BPPT Surabaya Ardi Praptono dalam laporannya menerangkan bahwa potensi ekspor kopi organik pada tahun 2019 sebanyak 153,6 ton yang terbagi pada lima negara tujuan. Yaitu Filipina, Thailand, Italia, Saudi Arabia dan Switzerland.

"Kelima negara itu meminta persyaratan produk yg cukup ketat, harus memiliki sertifikat sesuai dengan permintaan di masing-masing negara tujuan. Untuk mengupayakan itu, tahun ini kami giat melakukan pendampingan kepada petani organik agar pada tahun ini bisa mendapatkan sertifikasi organik, agar kemudian tahun 2019 poktan sudah bisa menjual produk dengan label organik," terang Ardi Praptono.

"Kami berharap ke depan petani agar lebih bersemangat dalam melaksanakan kegiatan perkebunan organik, dengan mengupayakan membangun komitmen nersama Pemerintah Daerah setempat dalam rangka meningkatkan produksi dan produktifitas kualitas organik perkebunan," pungkasnya.

Launching penjualan kopi perdana tersebut ditandai dengan pecah kendi dan gunting rangkaian bunga oleh Sekretaris Ditjen Perkebunan - Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Drs. Dudi Gunadi, BSc. M.Si didampingi Kepala BBPPTP Surabaya, Ardi Praptono, SP. M.Agr. dan disaksikan oleh sejumlah pejabat yang membidangi perkebunan dari tingkat Provinsi dan Kabupaten. (Trisianto)

Post a Comment

0 Comments